Reaksi anak-anak ketika pertama kali ke kebun binatang memang lucu. Ada yang penasaran, ada yang heboh, atau bahkan ada yang takut. Berikut ini adalah kompilasi video yan merekam tingkah anak yang lucu saat di kebun binatang.
Memiliki anak yang hobi membaca memiliki banyak keuntungan. Pertama, anak dapat memiliki pengetahuan yang tak terbatas karena ia terbiasa untuk memuaskan rasa ingin tahunya dengan membaca. Kedua, anak akan cenderung lebih sedikit mengalami masalah belajar ketika ia mulai memasuki usia sekolah nanti. Dan yang ketiga, anak akan cenderung tidak mudah kecanduan game atau gadget karena ia memiliki hobi lain jika Anda membatasi aktivitasnya di kedua hal tadi. Nah, lalu bagaimana menumbuhkan kegemaran membaca ini?
Ajak Anak Membaca Sebelum Ia Bisa Membaca
Mungkin terdengar aneh, tetapi kita sebenarnya bisa mulai menanamkan kegemaran membaca sejak usia sangat dini, sejak anak masih bayi misalnya. Biasakan untuk membacakan dongeng ataupun apa saja untuk anak, bahkan berita di koran misalnya. Walaupun anak belum mampu menangkap makna bacaan tersebut, ia akan mampu menangkap hal lain seperti intonasi Anda saat membacakan cerita untuknya, sampai menangkap hubungan antara teks dengan suara. Pembiasaan ini membuat anak tidak kesulitan saat tiba waktunya untuk belajar membaca.
Jadikan Saat Membaca Sebagai Saat yang Menyenangkan
Tentukan saat yang paling nyaman untuk membaca bersama anak. Bisa sehabis mandi di pagi hari, atau bahkan sebelum tidur malam. Terserah saja, mana yang paling sesuai dengan waktu Anda. Pastikan anak tidak dalam kondisi lapar atau capek, dan bantulah untuk menciptakan suasana yang nyaman. Ajak anak duduk atau berbaring bersama Anda dan mulailah kegiatan membaca dengan obrolan ringan terlebih dahulu sebagai pengantar untuk masuk ke cerita yang akan Anda baca. Bisa juga Anda mulai dengan bertanya seputar hari sang Anak, jika kebetulan Anda bekerja. Jadikan momen membaca bersama ini sebagai kesempatan untuk terhubung dengan anak. Dengan begitu, anak akan selalu menunggu-nunggu momen ini.
Gunakan Properti untuk Membuat Membaca Lebih Seru
Properti ini tentunya tergantung dari usia anak. Membaca untuk anak bayi di bawah usia 6 bulan tentunya tidak memerlukan properti apapun selain variasi intonasi suara dan dekapan hangat tangan Anda. Setelah 6 bulan, penggunaan buku cerita yang dapat dipegang dan digigit oleh anak (soft book) tentunya lebih menarik baginya. Memasuki usia satu sampai tiga tahun, Anda dapat mulai menggunakan media yang lebih interaktif, misalnya buku anak-anak dengan gambar yang menarik, pop-up book, buku yang dapat mengeluarkan suara, atau wayang-wayang sederhana dapat menjadi pilihan untuk lebih menghidupkan cerita. Saat anak sudah berusia lebih dari tiga tahun, semakin banyak alternatif yang dapat Anda tambahkan ke dalam kegiatan bercerita, misalnya Anda dapat membawa kamus saat membacakan cerita bahasa asing dan bersama dengan Anda mencari arti kata baru yang belum ia pahami. Atau Anda dapat membawa peta atau bola dunia kecil untuk menunjukkan lokasi suatu negara yang menjadi lokasi terjadinya cerita tersebut. Selamat bereksperimen!
Kategori:Uncategorized
Tidak pernah terlalu dini untuk mengajarkan kepada anak untuk melindungi dirinya dari sentuhan orang asing. Pesan-pesan seperti ini dapat kita sampaikan melalui obrolan saat membantu anak mandi atau berganti pakaian. Untuk membantu anak mengingat area mana saja yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, video berikut ini bisa digunakan:
Kategori:Uncategorized
Masalah kecanduan gadget pada anak sering kali ditemui orang tua masa kini. Orang tua sering kebingungan saat anaknya menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berinteraksi dengan gadget, sampai-sampai si Anak melupakan kewajibannya dan mengasingkan diri dari interaksi sosial dengan orang-orang di sekitarnya. Akan sulit sekali ‘mengobati’ kecanduan ini, jika sudah terlanjur terbentuk di dalam diri anak. Terapi perilaku di bawah pengawasan psikolog merupakan cara yang harus ditempuh untuk mengkoreksi perilaku yang terlanjur terbentuk. Namun, seperti nasihat kuno yang sering kita dengar, mencegah lebih baik daripada mengobati, maka sebenarnya ada cara yang dapat kita lakukan untuk mencegah terbentuknya kecanduan gadget pada anak.
Batasi Screen Time Anak
Jangan biarkan anak berinteraksi dengan gadget 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Berikan aturan untuk membatasi durasi interaksi anak dan gadget. Idealnya, 2 jam adalah waktu maksimal dalam satu hari yang boleh dicurahkan untuk berinteraksi dengan gadget.
Perbanyak Aktivitas Bermain Tanpa Gadget
Memang benar bahwa gadget sangat menarik minat anak karena dapat menampilkan berbagai macam gambar warna-warni yang dapat bergerak dengan iringan musik yang menarik, tetapi itu bukan satu-satunya hal yang bisa menghibur seorang anak. Anak pun bisa dilatih untuk menyukai buku, menggemari permainan olahraga, ataupun memiliki ketertarikan musik. Perbanyak aktivitas dengan anak yang tidak melibatkan gadget dan tunjukkan bahwa ada banyak sekali cara untuk bersenang-senang tanpa gadget.
Batasi Pemakaian Gadget Anda
Seorang anak selalu mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya. Saat Anda mengatakan padanya untuk membatasi pemakaian gadget tetapi Anda sendiri meluangkan banyak sekali waktu untuk membaca pesan Whatsapp, mengunggah foto di Instagram, dan mengecek email, tentu saja anak sulit untuk tidak mengikuti kebiasaan Anda yang tidak pernah lepas dari gadget. Maka, simpanlah gadget Anda di saku dan luangkan waktu untuk benar-benar terkoneksi dengan anak melalui kegiatan mengobrol, membacakan buku cerita, makan ataupun bermain bersama.
Kategori:Uncategorized
Jaman sekarang patut disayangkan banyak anak yang menyanyikan lagu-lagu yang tidak sesuai dengan usianya. Padahal mereka seharusnya mendengarkan lagu-lagu anak. Tahukah anda bahwa lagu anak mempunyai beberapa manfaat yang bagus untuk perkembangan anak? Berikut ini keuntungan dari memperdengarkan lagu anak untuk si kecil :
Membantu anak belajar mendengar dan mengucapkan kata
Lirik dalam lagu anak-anak cukup sederhana dan memiliki tingkat kesulitan yang sesuai dengan anak, sehingga menirukan suara di lagu anak dapat menjadi cara belajar mendengar dan mengucap kata yang menyenangkan bagi anak.
Membantu anak belajar memainkan volume dan nada suara
Anak akan bisa belajar mengatur intonasi, nada suara ketika percakapan sehari-hari. Sebagai contoh ketika kita bertanya kepada seseorang, kita sudah otomatis memainkan nada diluar kepala. Mungkin terlihat sepele, namun hal-hal ini yang sedang dipelajari sang anak.
Melatih imajinasi anak
Tentunya cerita dalam lagu-lagu anak kadang tidak masuk diakal, namun justru dapat melatih imajinasi anak, yang berarti sangat bagus bagi perkembangan kreativitasnya.
Melatih anak menyanyi sejak dini
Tentu saja dengan menirukan nyanyian lagu anak, anak anda sudah berlatih bernyanyi sejak dini.
Media belajar anak sepaket
Banyak hal yang dipelajari anak sekaligus dengan lagu anak : Menyanyi, Menari, Mengucapkan kata, Mengidentifikasi hal atau obyek dalam cerita, Berimajinasi dan Memori. Serta, yang paling penting, anak-anak senang melakukannya!
Daripada anak-anak anda mendengarkan lagu-lagu untuk orang dewasa yang kadang liriknya kurang pantas, mendingan kita beri anak-anak kita lagu-lagu yang sesuai dengan dunianya dan mendidik. Balita menyediakan banyak lagu anak yang bagus dan gratis lho! Anda bisa streaming langsung disini. Semoga bermanfaat bagi keluarga!
Kategori:Pendidikan, Perkembangan Anak
Memilih sekolah pertama untuk anak memang tidak mudah. Sebagai orang tua, kita ingin memastikan bahwa anak kita berada di lingkungan yang aman, nyaman, dan mampu memfasilitasi perkembangannya. Selain hal-hal praktis seperti lokasi, fasilitas gedung, dan kepopuleran sekolah di kalangan teman-teman kita, lima hal berikut ini dapat menjadi pertimbangan dalam memilih playgroup untuk si Kecil.
Staf yang Terlatih dan Berpengalaman
Sebelum memilih untuk memasukkan anak ke sebuah sekolah, kita perlu meluangkan waktu untuk datang dan berinteraksi langsung dengan para staf di sekolah tersebut, minimal dengan kepala sekolah dan guru yang akan memegang kelas anak kita. Dari obrolan santai seputar kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan di sekolah, kita dapat mengukur kompetensi serta kualitas komunikasi para guru yang bekerja di sana. Tentunya kita ingin membangun interaksi yang positif dengan sekolah anak kita bukan?
Ukuran Sekolah dan Rasio Guru-Murid yang Pas
Untuk playgroup dan TK, sekolah yang tidak terlalu besar cenderung lebih baik karena biasanya suasana kekeluargaan masih lebih terasa di sana. Staf sekolah dapat mengenal seluruh murid yang ada dan demikian juga sebaliknya. Hal ini dapat membantu memberikan rasa aman bagi si Anak sehingga ia akan lebih mudah beradaptasi dengan komunitas non-keluarga pertamanya. Selain itu, perhatikan juga rasio guru dan murid di sekolah tersebut. Idealnya, ada dua orang guru di dalam satu kelas untuk maksimal 20-30 anak.
Lingkungan yang Ramah dan Mendukung Perkembangan Anak
Perhatikan juga kualitas lingkungan sekolah tersebebut. Apakah suasana yang dibangun di sana penuh cinta dan ramah untuk anak-anak? Hal ini bisa dilihat dari interaksi yang terbentuk antara guru dan murid. Bagaimana perlakuan guru terhadap murid yang ‘nakal’, terlambat masuk sekolah, dan sebagainya. Pastikan juga sekolah tersebut menawarkan sarana yang memadai untuk merangsang perkembangan anak, baik dari segi motorik, sosial, maupun psikologis. Hal ini paling mudah dilihat dari fasilitas yang ada di ruang kelas, sarana bermain di playground, serta kegiatan-kegiatan yang diadakan di sekolah.
Hubungan Sekolah dengan Orang Tua
Sekolah sebaiknya memiliki cara untuk menyampaikan laporan perkembangan anak di sekolah dan melibatkan orang tua dalam berbagai kegiatan anak. Tanyakan ini pada kepala sekolah ataupun staf lainnya, apakah mereka punya buku laporan kegiatan harian anak, atau mungkin pertemuan rutin yang dilakukan dengan orang tua. Tanyakan pula bagaimana cara orang tua bisa menghubungi pihak sekolah, adakah nomor telepon atau sejenisnya yang bisa dihubungi jika sewaktu-waktu?
Kebersihan dan Keamanan
Last but not least, dua hal yang juga perlu menjadi pertimbangan tentunya adalah kebersihan dan keamanan lingkungan sekolah. Dalam tur singkat Anda ke sekolah, sempatkan untuk mampir ke toilet untuk mengukur standar kebersihan di sekolah tersebut. Untuk masalah keamanan, perhatikan apakah anak-anak diawasi saat bermain di playground. Lalu apakah ada pintu atau pagar yang menghalangi anak-anak untuk berlari keluar lingkungan sekolah tanpa sepengetahuan orang dewasa. Perhatikan pula apakah orang asing mudah masuk ke lingkungan sekolah tersebut atau tidak.
Kategori:Pendidikan
Pertanyaan ini mungkin mengganggu banyak orang tua saat ini. Di satu sisi, secara legal usia minimum untuk membuat akun sosial media, seperti Facebook adalah 13 tahun, tetapi di sisi lain, sering kali teman-teman sekolah si Anak yang masih di bawah umur sudah banyak yang memiliki akun di situs jejaring sosial terpopuler itu. Lalu, sikap apa yang harus kita ambil?
Apakah Sosial Media Bermanfaat untuk Anak?
Pertama, kita timbang dulu faktor manfaat dan resiko dari penggunaan media sosial untuk anak. Manfaat utama media soaial adalah untuk menjalin hubungan pertemanan. Hal ini penting untuk orang dewasa karena kita hidup di lebih dari satu komunitas, sehingga sering kali tidak punya waktu ataupun kesempatan untuk bertemu dan bersosialisasi dengan semua teman dan kenalan. Dengan adanya media sosial, hambatan untuk bertemu itu tidak menjadi alasan untuk hilang kontak. Lalu apakah manfaat ini berguna bagi anak-anak? Rasanya tidak karena pada umumnya anak-anak hanya memiliki satu atau dua komunitas saja, seperti sekolah dan tempat kursus, sehingga sebenarnya mereka bisa bertemu dan bermain dengan teman-temannya setiap hari, tanpa bantuan media sosial sekali pun.
Resiko Penggunaan Media Sosial
Perlu kita sadari bahwa setiap interaksi serta aktivitas kita ataupun anak di media sosial mengandung resiko yang membahayakan privasi atau bahkan keselamatan. Setiap postingan yang terunggah di media sosial merupakan jejak digital yang mengandung banyak informasi personal, yang mungkin bahkan tidak akan kita berikan pada teman yang tidak terlalu dekat. Bayangkan saja, setiap foto yang kita ambil dengan smartphone mengandung informasi lokasi serta jam pengambilan foto yang sangat spesifik, sehingga bahkan orang asing yang tidak mengenal kita ataupun anak kita pun akan langsung mendapat banyak informasi dari satu foto tersebut: 1) Identitas kita atau anak (minimal nama, wajah, pakaian dan atribut yang dipakai), 2) Aktivitas apa yang sedang kita/anak lakukan, 3) Di mana dan dengan siapa. Informasi personal seperti ini jika jatuh ke tangan orang yang berniat buruk tentu sangat berbahaya, baik untuk anak kecil, maupun orang dewasa seperti kita.
Setelah mempertimbangkan manfaat serta resiko yang mungkin muncul dari penggunaan media sosial, bagaimanakah sikap Anda sekarang? Ada baiknya untuk menunda dulu, sebelum anak mencapai usia yang cukup. Memang tidak mudah untuk melarang anak bermain media sosial, tetapi hal ini perlu diupayakan. Berikan pengertian dan ajak dia untuk bersama-sama mengeksplor media sosial untuk menunjukkan potensi manfaat serta bahaya dari penggunaannya. Yang paling penting, berikan contoh kepadanya bagaimana penggunaan media sosial yang baik. Jangan mengunggah postingan baru setiap menit sekali kalau Anda tak ingin anak kecanduan media sosial dan mengumbar seluruh kehidupan pribadinya di sana. Karena pada akhirnya, anak tidak akan mendengarkan apa yang kita katakan, tetapi mencontoh apa yang kita lakukan.
Hampir semua orang tua pernah menghadapi rengekan anak, entah minta jajan atau mainan. Namun, anda juga harus waspada, bila dibiarkan jadi kebiasaan, hal ini bisa merusak karakter anak menjadi sangat manja. Ada 5 cara yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasinya sejak dini :
Berani tegas bilang TIDAK
Anak anda harus memahami bahwa “tidak” berarti benar-benar “tidak”. Kadang memang kita merasa kasihan, namun bila kita dengan mudah menuruti apa mau anak, dia akan belajar bahwa dengan merengek semua keinginannya akan terpenuhi. Beri kata-kata pernyataan mutlak yang tegas namun tidak bernada kasar. Dengan membiasakan hal tersebut, anak anda akan belajar bahwa otoritas ada di tangan anda dan keputusan anda harus direspek.
Beri respon hanya saat dia meminta dengan sopan
Terkadang apa yang anak anda minta memang dia perlukan, namun caranya meminta tidak bagus. Contohnya, ketika anak anda meminta tambahan makanan, ajari dia untuk meminta dengan sopan, sebelum anda memberi apa yang dia inginkan. Bila dia sudah bisa meminta dengan sopan, namun anda tidak setuju dengan apa yang dia minta, kembali ke aturan no.1.
Coba beri uang saku
Sebenarnya tidak ada waktu yang pasti kapan anak mulai bisa diberi uang saku. Begitu anda merasa yakin anak anda sudah memahami bahwa uang adalah benda yang bisa membeli segala sesuatu, anda bisa mencoba memberinya uang saku, tentunya dengan jumlah yang wajar. Tujuannya, supaya anak belajar memahami konsep bahwa ada batasan untuk bisa menginginkan dan mendapatkan suatu hal. Anak pun akan belajar untuk bisa bersabar dan menggunakan apa yang dia punya dengan bijak.
Beri dia request kado untuk event tertentu
Bila anak anda sangat menginginkan sesuatu yang spesial, misal mainan yang mahal, bilang padanya kalau dia akan mendapatkannya, namun tidak sekarang. Bilang bahwa dia akan mendapatkannya saat ulang tahunnya, atau mungkin saat Lebaran, Natal atau saat liburan sekolah.
Negosiasi atau Jalan Tengah
Ajari anak dengan konsep menguntungkan masing-masing pihak. Anda bisa bernegosiasi dengan anak anda. Misal ketika anak anda meminta mainan baru, namun anda merasa dia sudah punya terlalu banyak mainan. Bilang saja dia akan mendapatkan mainan barunya jika dia mau merelakan satu mainannya disumbangkan dulu. Bila dia menginginkan es krim, dia harus mau makan sayur-sayuran dahulu.
Setiap anak mempunyai bakat tersendiri. Namun, bagaimana kita sebagai orang tua bisa menemukan di hal apa anak bisa mengeluarkan potensi terbaiknya? Tidak perlu bantuan profesional untuk bisa mengetahuinya. Berikut ini adalah cara-caranya :
Amati anak saat bermain
Perhatikan ketika anak anda sedang bermain, apakah dia cenderung diam dan mencoret-coret, atau dia lebih sering berlari-lari dan melempar bola, atau bahkan dia lebih terlihat enjoy bermain puzzle? Aktivitas favoritnya bisa menjadi patokan hal-hal apa yang dia bisa nikmati dan menarik buatnya. Semakin sering anda melakukan pengamatan, anda akan semakin bisa melihat bakat tersembunyi yang dia miliki.
Kenalkan anak dengan beragam aktivitas
Bantu anak mengeksplor hal-hal yang menarik minatnya dengan memperbanyak ragam aktivitasnya. Coba ajak dia ke berbagai tempat berbeda, kenalkan dia dengan macam-macam hobi dan kegiatan. Dengan cara ini anda bisa menemukan minat sang anak.
Dengarkan apa kata anak anda
Salah satu cara termudah mengetahui bakat anak tentu saja adalah dengan komunikasi! Coba tanyakan apa cita-citanya. Misalkan dia ingin menjadi superhero favoritnya – Iron Man, coba tanyakan kenapa dia ingin menjadi Iron Man. Bila dia ingin menolong orang, mungkin dia bisa menjadi polisi nantinya, atau jika dia ingin bisa menciptakan alat-alat canggihnya, mungkin dia bisa menjadi ilmuwan kelak.
Dukung apapun cita-citanya
Cita-cita anak bisa jadi sangat tidak realistis. Tapi jangan pernah membunuh mimpinya dengan mengatakan cita-citanya cuma khayalan dan tidak masuk akal, sebaliknya, tunjukkan bahwa anda memberi dukungan kepadanya dan tunjukkan langkah-langkah agar dia semakin dekat ke mimpinya. Pahamilah cara pikirnya, tugas anda adalah bisa menghubungkan imajinasinya dengan dunia nyata. Misalkan dia ingin memiliki kastil dari es seperti princess di film Frozen, beri dia motivasi untuk belajar tentang ilmu pengetahuan yang bersangkutan kelak, untuk membuat kastil perlu belajar arsitektur, untuk bisa mengukir es menjadi kastil yang indah perlu belajar seni, dan sebagainya.
Fasilitasi dia
Bila perlu dan sudah yakin, daftarkan dia ke kursus atau pendidikan yang berkaitan dengan bakatnya supaya potensinya bisa ditangani dan dilatih oleh tangan yang ahli.
Bersenang-senanglah dengan anak tercinta dan semoga berhasil dalam menemukan bakat anak anda!
Diadaptasi dari theAsianparent
Setiap orang tua pasti senang punya anak yang pintar dan berprestasi. Menjadi juara kelas, memiliki kemampuan bahasa asing yang baik, dan kerap kali memenangkan berbagai perlombaan sering kali dijadikan tolak ukur untuk mengenali anak berprestasi. Namun, orang tua sering lupa bahwa prestasi di bidang akademik dan non-akademik perlu juga diimbangi dengan ‘prestasi emosional’, sehingga mendidik anak untuk menjadi cerdas secara emosi pun tidak kalah pentingnya.
Seperti apa sih anak yang cerdas emosi itu? Berikut ini beberapa ciri yang bisa dipakai untuk mengenali anak yang sudah cerdas emosi.
- Anak mampu mengenali emosinya sendiri. Ia dapat merasakan berbagai jenis perubahan emosi yang terjadi dalam dirinya. Ia tahu kapan ia sedang senang dan juga bisa menyadari saat ia sedang sedih, marah, atau jengkel.
- Anak mampu mengontrol diri. Hal ini terutama saat apa yang diinginkannya tidak dapat dicapai, misalnya saat ia meminta untuk dibelikan mainan dan orang tua menolak. Apakah ia akan merengek dan berteriak sambil berguling-guling di lantai, ataukah ia dapat menerima penolakan dengan besar hati?
- Anak mampu memotivasi diri. Sudahkah si Kecil mengenali tanggung jawabnya? Mampukah ia menyelesaikan tugas-tugasnya tanpa dorongan atau dengan dorongan minimal dari orang di sekitarnya?
- Anak mampu mengenali emosi orang lain. Ia bisa turut merasakan kegembiraan orang lain, serta menyadari kesedihan atau kemarahan orang lain di sekitarnya. Selain itu, ia pun mampu menyesuaikan perilakunya dengan emosi orang-orang di sekitarnya, misalnya dengan meminta maaf saat ia membuat Anda jengkel atau berusaha menghibur teman yang sedang menangis.
- Anak mampu membina hubungan dengan orang lain. Pada akhirnya, tujuan utama yang ingin dicapai dari melatih kecerdasan emosi adalah untuk mempersiapkan anak untuk mapu bersosialisasi dengan orang lain. Seorang anak perlahan-lahan harus mampu menyadari keberadaan orang lain di sekitarnya dan mampu memperlakukan mereka seperti ia ingin diperlakukan. Saat anak sudah mencapai tahapan inilah ia sudah dapat dikatakan cerdas secara emosi.
Melatih kecerdasan emosi anak ini gampang-gampang susah karena tidak seperti kecerdasan intelektual yang terukur dan jelas standarnya, kecerdasan emosi ini sering kali lebih abstrak. Selain itu, kecerdasan emosi tidak dapat dipelajari dalam lingkungan formal, seperti sekolah atau lembaga kursus, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.
Diadaptasi dari AyahBunda
Kategori:Psikologi
Tags: EQ, IQ, kecerdasan emosi, parenting, prestasi anak, psikologi anak










